PELAPORAN KEUANGAN SEGMEN

PELAPORAN SEGMEN MENURUT FASB STATEMENT NO. 131

FASB Statement No.131 berlaku untuk perusahan, yang didefinisikan sebagai perusahaan yang menerbitkan efek hutang atau ekuitas yang diperdagangkan dipasar umum, yang diwajibkan untuk memberikan laporan keuangan kepada SEC , atau memberikan laporan keuangan dengan tujuan memberikan surat berharga dipasar umum. Perusahaan harus melaporkan informasi segmen dengan cara yang sama dengan manajemen mengatur perusahaan dengan unit-unit untuk pengambilan keputusan internal dan tujuan evaluasi kinerja. Standar merunjuk pendekatan yang demikian sebagai pendekatan manajemen untuk segmentasi.

Identifikasi Segmen yang Perlu Dilaporkan

Segmen yang ditentukan oleh pendekatan manajemen disebut segmen usaha. Statement No.131 menjelaskan suatu segmen usaha sebagai komponen dari suatu perusahaan

1. yang terlibat dalam aktivitas usaha yang menimbulkan pendapatan dan biaya, termasuk pendapatn dan biaya segmen;

2. yang hasil usahanya ditelaah secara teratur oleh pemimpin usaha yang berwenang, yang berwenang melalukan pengambilan keputusan; dan

3. yang mampu menyediakan informasi keuangan yang terpisah.

Beberapa bagian dari perusahaan tidak termasuk kriteria dalam segmen. Program pensiun dan manfaat pensiun lainya tidak termasuk segmen usaha. Demikian juga, departemen pusat atau fungsional perusahaan yang tidak memperoleh pendapatan bukan merupakan segmen usaha.

KRITERIA PENGABUNGAN Suatu perusahaan dapat menggabungkan beberapa segmen usaha yang mirip apabila pengelompokan tersebut sesuai dengan tujuan Statement No. 131 dan segmen-segmen tersebut memiliki ciri-ciri ekonomis yang sama/mirip. Segmen tersebut juga harus memiliki kesamaan dalam beberapa area berikut:

1. sifat produk dan jasanya

2. sifat proses produksi

3. jenis kelas pembeli/pengguna produk dan jasa tersebut

4. metode distribusi untuk produk dan jasa, dan

5. Bila ada, sifat lingkungan peraturan (misalnya, pelayanan umum)

AMBANG BATAS KUANTITATIF Segmen usaha harus dilaporkan apabila segmen tersebut memenuhi ambang materalitas. Suatu segmen dianggap material dan perlu dilaporkan terpisah apabila ada satu dari tiga kriteria berikut terpenuhi

1. Pendapatan yang dilaporkan suatu segmen, termasuk pendapatan antar segmen, mencakup 10% atau lebih atas pendapatan gabungan seluruh segmen usaha

2. Nilai absolute dari laba atau rugi yang dilaporkan mencakup 10% atau lebih atas jumlah yang lebih besar antara (a) gabungan laba seluruh segmen usaha yang melaporkan laba atau (b) nilai absolute dari gabungan rugi seluruh segmen usaha yang melaporkan kerugian.

3. Aktivanya mencakup 10% atau lebih atas aktiva gabungan seluruh segmen usaha. Apabila segmen yang perlu dilaporkan telah diidentifikasi, seluruh segmen usaha lainya digabungkan dengan kegiatan usaha lain dalam kategori “lain-lain” untuk keperluan pelaporan.

PERTIMBANGAN ULANG ATAS SEGMEN YANG DILAPORKAN Segmen yang dilaporkan harus mencakup 75% dari seluruh pendapatan eksternal. Apabila segmen yang dilaporkan tidak memenuhi kriteria ini, segmen tambahan harus diidentifikasi untuk dilaporkan, walaupun segmen-segmen itu tidak memenuhi ambang batas kuantitatif. Dua atau lebih dari dua segmen yang lebih kecil yang tidak dilaporkan tersendiri dapat digabungkan untuk membentuk sebuah segmen usaha yang dilaporkan hanya jika segmen-segmen tersebut memenuhi sebagian besar kriteria penggabungan.

Statement No.131 tidak menentukan secara khusus jumlah segmen yang harus dilaporkan. Namun terlalu banyak segmen yang dilaporkan akan menjadi terlalu rinci dan akhirnya malah tidak memberikan hasil yang diharapkan. Walaupun tidak ada batasan pasti yang ditetapkan, FABS menganjurkan agar perusahaan yang mengidentifikasi lebih dari 10 segmen yang dilaporkan untuk mempertimbangkan penggabungan tambahan.

Ilustrasi tentang Pengujian atas Segmen Usaha yang Perlu Dilaporkan

Phil-Brown Corporation memiliki empat segmen usaha. Secara internal, hasil usaha digabungkan dan dievaluasi berdasarkan industri. Phil-Brown menerapkan tiga pengujian materialitas untuk menentukan untuk menentukan segmen usaha mana yang merupakan segmen yang perlu dlaporkan.

UJI PENDAPATAN Uji pendapatan dilakukan dengan mem bandingkan pendapatan masing-masing segmen usaha (pendapatan dari pembeli eksternal ditambah pendapatan antar segmen) dengan 10% pendapatan gabungan (internal maupun eksternal) dari seluruh segmen usaha. Uji pendapatan Phil-Brown adalah sebagai berikut:

Pendapatan Segmen Usaha

Pendapatan antar segmen

Nilai Uji (10%*$670000)

Apakah Segmen perlu Dilaporkan Menurut Uji Pendapatan

Makanan

$ 150000

0

$67000

Ya

Kertas

170000

$200000

67000

Ya

Tembaga

40000

0

<

67000

Tidak

Keuangan

60000

50000

67000

Ya

Total

$420000

$250000


Nilai uji pendapatan adalah $67000 karena total pendapatan seluruh segmen usaha adalah $670000. Segmen makanan ($150000), kertas ($370000), dan keuangan ($110000) merupakan segmen yang dapat dilaporkan menurut uji pendapatan karena total pendapatannya melebihi $67000. Segmen tembaga bukan merupakan segmen yang perlu dilaporkan menurut kriterian ini.

UJI AKTIVA Uji aktiva mencakup pembandingan total jumlah aktiva masing-masing segmen usaha dengan 10% total aktiva seluruh segmen usaha. Aktiva segmen didefinisikan sebagai aktiva yang termasuk dalam pengukuran aktiva segmen yang ditelaah oleh pimpinan usaha yang berwenang. Aktiva perusahaan dapat dimasukkan atau dikeluarkan dari pengukuran aktiva, tergantung pada cara manajemen mengatur aktiva untuk keperluan pengambilan keputusan usaha.

Asumsikan bahwa seluh aktiva Phil-Brown Corporation dialokasikan ke segmen usaha kecuali aktiva yang digunakan untuk kepentingan perusahaan.

Akitiva Teridentifikasi Segmen Usaha

Nilai Uji (10%*$1010000)

Apakah Segmen perlu Dilaporkan Menurut Uji Pendapatan

Makanan

$ 200000

$101000

Ya

Kertas

250000

101000

Ya

Tembaga

60000

<

101000

Tidak

Keuangan

500000

101000

Ya

Total

$1010000


Segmen makanan, kertas dan keuangan semuanya memenuhi uji aktiva 10% sebagai segmen yang perlu dilaporkan.

UJI LABA USAHA Tidak diperlukan keseragaman definisi mengenai laba usaha dalam melakukan pengujian ini. Laba atau rugi usaha suatu segmen usaha tergantung pada pendapatan dan biaya yang dimasukkan manajemen dalam pengukuran yang telaah oleh pimpinan usaha yang berwenang.

Dalam melakukan uji laba usaha, nilai absolute dari masing-masing laba atau rugi usaha segmen usaha dibandingkan dengan 10% dari yang lebih besar antara gabungan laba usaha seluruh segmen usaha yang menghasilkan laba atau gabungan rugi usaha seluruh segmen usaha yang tidak menghasilkan laba. Uji pada Phil-Brown adalah sebagai berikut:

Laba Usaha Segmen Usaha

Rugi Usaha Segmen Usaha

Nilai Uji (10%*$670000)

Apakah Segmen perlu Dilaporkan Menurut Uji Pendapatan

Makanan

$ 25000

$13000

Ya

Kertas

55000

13000

Ya

Tembaga

$(10000)

<

13000

Tidak

Keuangan

50000

13000

Ya

Total

$130000

$(10000)


Setelah nilai uji $13000 ditentukan, pengujian ini dilakukan pada nilai absolute laba rugi usaha untuk masing-masing segmen. Segmen makanan, kertas, da keuangan dari Phil-Brown merupakan segmen yang perlu dilaporkan menurut uji laba usaha 10%.

EVALUASI ULANG ATAS SEGMEN YANG DILAPORKAN

Segmen tembaga tidak memenuhi semua pengujian 10% untuk menentukan perlu tidaknya suatu segmen dilaporkan. Segmen yang perlu dilaporkan adalah segmen makanan. Kertas, dan keuangan. Dalam uji pendapatan, nilai uji didasarkan pada 10% dari total pendapatan eksternal dan antar segmen. Apabila pendapatan antar segmen sangat besar, beberapa segmen yang membentuk prersentase besar pendapatan konsilidasi (atau eksternal) mungkin tidak memenuhi syarat pelaporan menurut uji pendapatan ini. Apabila segmen-segmen ini juga tidak memenuhi syarta pelaporan menurut kedua pengujian lainnya, maka investor tidak akan memperoleh informasi yang relavan penting. Statement No.131 mewajibkan agar total pendapatan eksternal dari segmen usaha yang dilaporkan sama dengan minimal 70% dari total pendapatan konsolidasi.

Dalam contoh Phil-Brown, nilai uji adalah $315000 ($42000*75%). Pendapat eksternal dari segmen makanan, kertas, dan keuangan sebesar $380000 lebil besar dari 35% pendapatan konsolidasi, dan demikian tidak ada segmen tambahan yang perlu dilaporkan. Apabila pengujian 75% ini tidak penuhi, segmen usaha tambahan ditambahkan hingga kriteria 75% tersebut terpenuhi.

Apabila segmen tembaga merupkan segmen yang dilaporkan dalam periode sebelumnya dan manajemen Phil-Brown menganggap segmen tersebut masih signifikan. Phil-Brown akan melaporkan segmen tembaga secara terpisah sebagai segmen usaha yang perlu dilaporkan walaupun segmen itu memenuhi semua pengujian 10% untuk periode ini.

Pengungkapan Tentang Segmen

Dasar organisasi yang digunakan oleh pimpinan usaha yang berwenang. Untuk menentukan segmen usaha (misalnya, produk dan jasa, wilayah geografis, lingkungan peraturan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut) harus di ungkapkan, seperti halnya juga dengan penggabungan segmen usaha yang digunakan untuk menghasilkan segmen yang dilaporkan tersebut. Jenis-jenis produk dan jasa dari tiap segmen pelaporan diungkapkan. Pengungkapan yang diharuskan tersebut dibuat untuk setiap tahun sewaktu laporan keuangan disajikan.

INFORMASI LABA ATAU RUGI DAN AKTIVA Ukuran laba atau rugi dan total aktiva dilaporkan untuk masing-masing segmen yang dilaporkan juga, Statement No.131 (paragraph 27) mewajibkan informasi berikut untuk setiap segmen dilaporkan “apabila jumlah yang disebutkan dalam laba atau rugi segmen yang ditelaah untuk pimpinan usaha yang berwenang:

1. Jumlah pendapatan dari pembeli eksternal.

2. Jumlah pendapatan dari segmen usaha lain dalm perusahaan yang sama.

3. Pendapatan bunga.

4. Beban bunga (apabila pendapatan suatu segmen terutama berasal dari bunga dan pimpinan usaha yang berwenang menjadikan pendapatan bunga bersih untuk evaluasi untuk kinerja segmen tersebut boleh melaporkan pendapatan bunganya setelah dikurangi beban bunga).

5. Biaya penyusutan, deplesi, dan amortisasi.

6. Akun tidak biasa (seperti yang dijelaskan dalam APB Opinion No.31, paragraf 26).

7. Bagian dari laba bersih perusahaan yang ditanami modal yang diperhitungkan denga modal ekuitas.

8. Beban atau pendapatan pajak penghasilan.

9. Akun/transaksi luar biasa (extraordinary item).

10. Akun/transaksi signifikan bukan kas selain biaya penyusutan, deplesi, dan amortisasi.

Pengungkapan lain mengenai aktiva diwajibkan apabila jumlah yang disebutkan termasuk daalm penelahaan oleh pimpinan usaha yang berwenang. Ini mencakup nilai investasi dalam perusahaan yang ditanami modal total pembiayaan untuk penambahan aktiva yang berumur panjang selain instrument keuangan dan beberapa akun tertentu, dan aktiva pajak tangguhan.

PENGUKURAN Jumlah yang dilaporkan dalam pengungkapan informasi segmen tergatung pada jumlah yang dilaporkan pada pimpinan usaha yang berwenang. Apabila alokasi pendapatan, biaya, laba, atau rugi dilakukan terhadap segmen usaha untuk menentukan ukuran laba atua rugi yang digunakan oleh piimpinan usha yang berwenang, maka alokasi tersebut juga merupakan bagian dari data segmen yang dilaporkan. Apabila aktiva dialokasikan ke segmen dalam laporan internal, maka aktiva juga dialokasikan ke segmen untuk pelaporan eksternal.

Perusahaan juga melaporkan dasar akuntansi untuk transaksi antar segmen (misalnya, pada biaya atau harga pasar), setiap selisih antara pengukuran laba atau rugi dan aktiva segmen dengan jumlah konsolidasi yang tidak sesuai dengan rekonsiliasi yang ditentukan (dijelaskan dibawah ini) harus diungkapkan. Perubahan metode pengukuran dibandingkan periode sebelumnya juga diungkapkan.

KETENTUAN REKONSILIASI Sebagai tambahan pada informasi yang diberikan untuk setiap segmen, rekonsiliasi antara data segmen dan informasi konsolidasi harus disediakan untuk hal-hal berikut ini:

1. Total pendapatan segmen dn pendapatan konsolidasi yang dilaporkan.

2. Toral laba atau rugi segmen dan laba konsolidasi sebelum pajak (namun, apabila akun seperti pajak dan akun luar biasa termasuk dalam laba atau rugi segmen, maka laba atau rugi segmen direkonsiliasi dengan laba konsolidasi setelah memasukkan akun-akun tersebut.

3. Total aktiva segmen dan aktiva konsolidasi.

4. Total jumlah untuk akun-akun signifikan lainya yang diungkapkan, dengan nilai konsolidasi akun yang bersangkutan.

Pengungkapan Tentang Perusahaan

Perusaahan juga melaporkan informasi terbatas mengenai produk dan jasa, wilayah geografis usahanya, dan pembelian utama, terlepas dari segmentasi usaha yang digunakan. Informasi tambahan ini diharuskan hanya jika informasi tersebut tidak tersedia sebagai bagian dari informasi segmen usaha yang dilaporkan.

PRODUK DAN JASA Perusahan mengungkapkan pendapatan dari masing-masing produk atau jasa atau sekelompok produk atau jasa yang mirip atau fakta bahwa penyediaan informasi demikian tidak dilakukan karena tidak dipraktis.

INFORMASI GEOGRAFIS Apabila memungkinkan, perusahaan mengungkapkan infomasi geografis, termasuk dalam pendapatan dari pembeli eksternal yang terkait dengan negara asal perusahaan dan pendapatan yang terkait dengan negra asing lainnya secara total. Apabila pendapatan dari suatu negara bersifat material (umumnya 10%), informasi ini akan diungkapkan terpisah. Demikian pula halnya bila perusahaan mengungkapkan aktiva berumur panjang berdasarkan negara domisili dan negara asing lainnya secara total, ditambah, pengungkapan terpisah untuk setiapa negara dimana aktivanya tergolong material.

PEMBELIAN UTAMA Perusahaan diharuskan mengungkapkan keberadaan pembelian utama. Fakta bahwa suatu pembelian tunggal menyumbang 10% atau lebih dari total pendapatan perusahaan harus diungkapkan, juga jumlah pendapatan dari masing-masing pembelian yang demikian dan segmen yang melaporkan pendapatan tersebut. Pengungkapan identitas pembelian tidak diperlukan. Dalam perhitungan aturan 10% tersebut, sekelompok entitas dibawak pengendalian yang sama dianggap sebagai suatu pembelian tunggal. Namun pemerintah local dan Negara bagian dianggap sebagai entitas yang berbeda.

Peranga 14-1 mengilustrasikan pengungkapan segmen untuk Arc Corporation selama 1 tahun. Pengungkapan diharuskan untuk tiap-tiap tahun dimana seperangkat laporan keuangan yang lengkap disajikan.

Beams, Anthony, clement, lewensohn.”Akuntansi Lanjut Jilid 2”.Indeks.

Pengiriman Uang dari TKI Capai US$ 6,6176 Miliar

Herdaru Purnomo - detikFinance

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah transaksi remitansi ke Indonesia selama tahun 2009 mencapai US$ 6,6176 miliar. Nilai tersebut turun tipis dibandingkan 2008 yang mencapai US$ 6,6179 miliar karena menurunnya penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia.

"Penurunan tipis tersebut disebabkan karena terpengaruh penurunan penempatan ke Malaysia sebesar 50% sehubungan dengan kebijakan moratorium," ungkap Senior Analis Informasi dan Lisensi Sistem Pembayaran Direktorat Akuntansi Sistem Pembayaran BI, Ida Nuryanti di Gedung Bank Indonesia, Jalan Budi Kemulyaan, Jakarta, Jumat (14/5/2010).

Secara kumulatif penempatan TKI selama tahun 2009 mencapai 636,8 ribu orang atau turun 15% dari tahun sebelumnya. Penurunan penempatan TKI tersebut terutama terjadi pada wilayah Asia yang mengalami penurunan sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan wilayah penempatan Timur Tengah mengalami kenaikan sebesar 11,7%.

Namun, lanjut Ida, nilai remitansi terbesar masih tetap berasal dari kawasan Asia yang mencapai 53%, sementara urutan kedua dipegang Timur Tengah dan Afrika 44%. "Remmitansi paling banyak berasal dari Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Sementara kawasan Eropa dan Amerika hanya 3%," tambahnya.

Berdasarkan data BI, dana remitasi yang masuk ke kawasan Asia sepanjang Januari 2010 mencapai US$ 279,42 juta. Ke Timur Tengah dan Afrika US$ 228,72 juta, Amerika US$8,58 juta, serta Eropa dan Australia US$ 8,32 juta.

Sementara berdasarkan negara tujuan penempatan TKI, Malaysia masih menjadi sumber inflow Worker's Remintance (WR) terbesar dari kawasan Asia Pasifik mencapai 67,1%, diikuti Hongkong 13,3 %, dan Singapura 6,2 %.

Ia menambahkan, untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika negara asal remitansi terbesar berasal dari Arab Saudi 81,9 % serta UEA 6,9 %. "Kawasan Amerika dan Eropa inflow WR terbesar masih berasal dari USA sebesar 50,8%," pungkasnya.

(dru/dnl)

Ulasan:

Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah transaksi remitansi selama tahun 2009 mengalami penurun tipis dibandingkan 2008, penurunan tipis tersebut dikarenakan terpengaruh penurunan penempatan ke Malaysia sebesar 50% sehubungan dengan kebijakan moratorium.

Namun malaysia masih menjadi sumber inflow Worker's Remintance (WR) terbesar dari kawasan Asia Pasifik diikuti Hongkong dan Singapura.

Asing Lepas Surat Utang RI Rp 3,13 Triliun

Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - Setelah terus-menerus Surat Utang Negara (SUN) menjadi incaran para investor asing. Kali ini para investor asing melepas sebagian kepemilikannya di SUN senilai Rp 3,13 triliun dalam waktu 5 hari.

Demikian data dari Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan yang dikutip, sabtu (15/5/2010).

Sepertinya dampak dari merebaknya krisis utang di Eropa khususnya Yunani menjadi salah satu penyebab keluarnya dana asing dari instrumen SUN.

Sampai 12 Mei 2010, jumlah SUN yang diperdagangkan mencapai Rp 608,68 triliun, sementara porsi kepemilikan investor asing mencapai 23,89% atau Rp 145,43 triliun.

Porsi terbesar tetap dipegang oleh perbankan dengan jumlah sebesar Rp 238,78 triliun.

Bank Indonesia (BI) juga memegang instrumen SUN sebesar Rp 17,83 triliun. Kemudian industri reksa dana memiliki SUN sebesar Rp 47,14 triliun, industri asuransi memiliki SUN Rp 75,77 triliun, dana pensiun memegang Rp 37,74 triliun, perusahaan sekuritas Rp 280 miliar, dan lainnya Rp 45,71 triliun.

(dnl/dnl)

Ulasan:

Dampak dari merebaknya krisis utang di Eropa khususnya Yunani menjadi salah satu penyebab keluarnya sebagian dana asing dari instrumen SUN dimana setelah terus-menerus Surat Utang Negara (SUN) menjadi incaran para investor asing.

Pemerintah Terbitkan Surat Utang Rp 86 Triliun

Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - Sampai dengan kurang lebih 5 bulan di tahun 2010, pemerintah telah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dan juga Sukuk dengan nilai Rp 86 triliun. Penerbitan surat utang ini dilakukan untuk memenuhi kekurangan dana untuk membiayai APBN tahun ini.

"Sampai saat ini pemerintah sudah menerbitkan Rp 86 triliun atau 48,4% dari total gross target penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) di tahun 2010," jelas Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Sabtu (15/5/2010).

Seperti diketahui, anggaran pemerintah di tahun 2010 mengalami kenaikan defisit menjadi 2,1% atau Rp 129,816 triliun. Salah satu jalan yang diambil oleh pemerintah untuk menutupi defisit tersebut adalah dengan menerbitkan surat utang tersebut.

Pemerintah berencana untuk menarik pinjaman luar negeri sebesar Rp 70,777 triliun. Kemudian dari penerbitan surat utang (SBN/Surat Berharga Negara) sebesar Rp 107,5 triliun. Semua akan dilakukan di tahun ini.

(dnl/dnl)

Ulasan:

Keputusan yang dibuat pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN), surat utang (SBN/Surat Berharga Negara), dan menarik pinjaman luar negeri untuk memenuhi kekurangan dana untuk membiayai APBN tahun ini sangatlah baik dan akan lebih baik lagi jika dana tersebut dimanage dan digunakan sebaik mungkin.

Dirikan Bakrie Connectivity, BTEL Investasi US$ 100 Juta

Indro Bagus - detikFinance

Jakarta - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menyiapkan investasi US$ 100 juta untuk mengembangkan PT Bakrie Connectivity, anak usaha yang baru didirikan Maret 2010.

"Investasi untuk Bakrie Connectivity sebesar US$ 100 juta tahun ini," ujar Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi di kantornya, Jakarta, Selasa (11/5/2010).

Bakrie Connectivity alias BCON merupakan anak usaha BTEL yang baru saja didirikan 11 Maret 2010. BCON bergerak di bidang perdagangan produk dan jasa berbasis internet provider dan multimedia.

Modal disetor BCON sebesar Rp 500 juta. Nilainya tidak besar. Sebab, perusahaan ini hanya berfungsi menjalankan operasional saja. "Dana investasi sebesar US$ 100 juta telah diperoleh dari hasil penerbitan obligasi US$ 250 juta," jelas Abi.

BTEL baru saja menyelesaikan penerbitan obligasi senilai US$ 250 juta. Dananya akan digunakan untuk melunasi utang bank sebesar US$ 175 juta, kemudian untuk pendanaan interest reserve account sebesar US$ 14,4 juta.

Abi mengatakan, pelunasan utang bank US$ 175 juta itu termasuk pelunasan pinjaman jangka pendek (bridge loan) sebesar US$ 45 juta dari Credit Suisse, Morgan Stanley, dan Bank of America Merril Lynch.

Pinjaman sebesar US$ 45 juta tersebut digunakan untuk investasi di BCON, sehingga untuk memenuhi investasi US$ 100 juta di BCON, masih dibutuhkan dana sebesar US$ 55 juta.

"Total pelunasan utang bank ditambah pendanaan interest reserve account sekitar US$ 189,4 juta. Jadi masih ada sisa dana obligasi US$ 60,6 juta. Dana ini untuk investasi ke BCON," ujarnya.

Selain itu, BTEL juga baru saja mendirikan anak usaha baru bernama PT Bakrie Network atau BNET pada 11 Maret 2010. BNET bergerak di bidang pembangunan infrastruktur jasa telekomunikasi.

"Jadi nanti BNET akan membangun berbagai infrastruktur telekomunikasi seperti jaringan fiber optik," jelas Abi.

Sayangnya, Abi belum dapat membeberkan investasi yang disiapkan perseroan untuk BNET. "Investasinya bisa lebih besar dari BCON. Tapi dia baru tahun depan, tidak tahun ini. Nilainya nanti deh," jelasnya.

(dro/dnl)

Ulasan:

Dengan didirikan Bakrie Connectivity (BCON) & PT Bakrie Network (BNET) sangat diharapkan berdampak baik terhadap pembangunan indonesia terutama dibidang perdagangan produk dan jasa berbasis internet provider dan multimedia maupun pembangunan infrastruktur jasa telekomunikasi.

Imbas Krisis Eropa Ke RI Sudah Mereda

Ramdhania El Hida - detikFinance

Jakarta - Pemerintah yakin krisis utang yang terjadi di Eropa khususnya Yunani tidak akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Walaupun pekan lalu imbal hasil (yield) surat utang negara dan CDS (credit default swap) sempat fluktuatif, namun pekan ini semuanya kembali normal. Hal ini disebabkan adanya komitmen dari Uni Eropa untuk melakukan langkah penanggulangan krisis tersebut.

"Kita bersyukur karena European Union bersedia mem-bailout yang tidak tanggung-tanggung besarnya hampir US$ 1 triliun. Inilah yang membuat dampak ke kita mereda dan bahkan berpeluang rebound," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (14/5/2010).

Hatta juga menegaskan kondisi perekonomian Indonesia secara fundamental tidak perlu dikhawatirkan.

"Kita bersyukur daya tahan kita jauh lebih baik kita itu mengawasi betul setiap pergerakannya, kita melihat pengaruhnya dan sebagainya. Kita cukup hati-hati dan prudent," ujarnya.

Hatta mengatakan kondisi fiskal Indonesia yang cukup baik itu menunjukkan bahwa penurunan indikator ekonomi pekan lalu murni terjadi karena gejala global. Sebelumnya, ada beberapa spekulasi yang mengatakan penurunan kegiatan pasar saham dana indeksi karena mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

"Dengan kondisi itu, berarti bukan karena spekulasi politik dalam negeri, tapi memang karena faktor global," kata dia.

Hal serupa juga disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu. Dia mengatakan Indonesia tidak terpengaruh banyak karena memang kebijakan fiskal Indonesia cukup kuat.

"Kita eksposurnya minimum ke Yunani, euro zone tidak terlalu besar," ujar Anggito.

Selain itu, Anggito menyatakan pemerintah juga telah mendesain Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dengan postur yang lentur, risiko fiskal sudah diperhitungan cukup kuat sehingga memiliki rem dan juga stabilisator.

"Kebijakan kita sangat pruden sehingga external shock bisa ditahan," katanya.

(nia/dnl)

Ulasan:

Dampak krisis eropa memang sangat mengkhawatirkan untuk Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Berita diatas sangat mengembirakan dan melegakan. Pemerinitah Indonesia harus mengawasi betul setiap pergerakan perekonomian eropa.

Imbas Krisis Eropa Ke Indonesia tidak berpengaruh banyak karena memang kebijakan fiskal Indonesia cukup kuat, pemerintah juga telah mendesain Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dengan postur yang lentur, risiko fiskal sudah diperhitungan cukup kuat sehingga memiliki rem dan juga stabilisator, ujar Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu.